Dua Dunia Rahmat Setiawan, Pemotong Rumput Siak yang Bertengger di NASA Hall of Fame
Siak, (potretperistiwa.com) – Siang hari, tangannya menggenggam erat mesin pemotong rumput di tengah teriknya Riau. Namun saat malam tiba, jemari Rahmat Setiawan (27) menari di atas papan ketik, menembus benteng siber paling ketat di planet ini: National Aeronautics and Space Administration (NASA).
Pemuda asal Perawang, Kabupaten Siak, ini mendadak jadi sorotan setelah namanya resmi tercatat dalam NASA Hall of Fame—sebuah daftar kehormatan bagi peretas etis (ethical hacker) dunia. Rahmat berhasil menemukan dan melaporkan celah keamanan (vulnerability) berbahaya pada sistem lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut melalui Vulnerability Disclosure Program.
Laporan risetnya dinyatakan valid. NASA pun secara resmi melayangkan apresiasi tertinggi untuk pemuda yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh outsourcing pemotong rumput ini.
Lulusan SMK YPPI Tualang Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) ini mengaku mempelajari cybersecurity secara mandiri sejak 2021. Tanpa gelar sarjana maupun fasilitas mewah, ketekunannya membuahkan hasil luar biasa.
Hebatnya lagi, NASA bukan satu-satunya raksasa yang dibuat terpukau. Kemampuan siber Rahmat sebelumnya juga telah diakui dan mendapat penghargaan dari raksasa teknologi dunia, Google.
"Anak muda luar biasa. Cuma pemotong rumput, tapi bisa mendapat penghargaan dari NASA dan Google, raksasa teknologi dunia," puji Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, saat bertemu Rahmat, Kamis (20/8/2026).
Memiliki kemampuan meretas tingkat tinggi tentu dikelilingi godaan besar. Di hadapan Bupati Siak, Rahmat membeberkan bahwa dirinya kerap digoda dan ditawari imbalan fantastis oleh pihak-pihak tertentu untuk membobol sistem perbankan. Namun, integritasnya tak goyah. Ia menolak tegas tawaran tersebut dan memilih jalur white-hat hacker (peretas putih).
Pemerintah Kabupaten Siak pun bergerak cepat agar talenta langka ini tak tersia-siakan. Pemkab Siak menyiapkan beasiswa penuh agar Rahmat bisa mengenyam pendidikan tinggi dan mengawal bakat Rahmat agar kemampuannya terus terasah dan dimanfaatkan untuk keamanan siber nasional serta Menjadikan Rahmat sebagai pemicu lahirnya talenta-talenta digital baru dari daerah.
Kisah Rahmat Setiawan membuktikan satu hal: jenius siber tak selalu lahir dari ruang kuliah ber-AC atau gedung pencakar langit. Kadang, mereka tumbuh dari rasa ingin tahu yang tak padam, di antara deru mesin pemotong rumput di sudut Riau.***(MC).

Posting Komentar