Oleh: Ustadz Cahaya Ravaiel
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Saudaraku seiman di tanah Kampar yang diberkahi Allah...
Jika Idulfitri adalah kemenangan setelah sebulan penuh berjuang melawan hawa nafsu, maka Ayi Ayo Onam (Hari Raya Enam) adalah "penyempurna" cahaya kemenangan itu. Di Kampar, tradisi ini bukan sekadar perayaan susulan, melainkan manifestasi nyata dari ketaatan yang dibalut dengan indahnya silaturahmi.
1. Puasa Syawal: Jembatan Menuju Istiqomah
Secara syariat, kita tahu bahwa berpuasa enam hari di bulan Syawal pahalanya setara dengan berpuasa setahun penuh. Namun, masyarakat Kampar membawa pemahaman ini ke level yang lebih tinggi. Mereka tidak merayakan kemenangan sebelum "tugas tambahan" ini tuntas. Ini mengajarkan kita tentang kesabaran, bahwa kebahagiaan sejati hadir bagi mereka yang mampu menunda kesenangan sesaat demi ridha Illahi yang lebih besar.
2. Ziarah Kubur, Mengingat Akar, Menjemput Bekal
Pemandangan ribuan orang berjalan kaki bersama dari pemakaman ke pemakaman di hari itu adalah sebuah khutbah bisu yang sangat kuat. Mengingat Mati, di tengah kegembiraan hari raya, kita diingatkan pada rumah masa depan (kubur) selain itu doa Kolektif, dimana kekuatan doa yang dipanjatkan bersama-sama untuk para pendahulu menciptakan energi spiritual yang menggetarkan langit Kampar serta makan Bajamba hal ini dilakukan dengan mengambil hikmah runtuhnya Sekat-Sekat Duniawi.
Saat duduk bersila menghadapi hidangan yang sama di masjid atau musala, tidak ada lagi si kaya atau si miskin, tidak ada pejabat maupun rakyat jelata. Semuanya menyatu dalam satu nampan ukhuwah. Inilah esensi Islam yang sebenarnya: Kesetaraan. Kita diingatkan bahwa di hadapan Allah, yang membedakan kita hanyalah ketakwaan, bukan jenis hidangan yang ada di atas meja kita.
” Ayi Ayo Onam bukan sekadar soal lemang dan rendang, tapi soal bagaimana kita memelihara api ketaatan agar tetap menyala setelah Ramadan pergi. Ia adalah simbol bahwa masyarakat Kampar adalah masyarakat yang mendahulukan syukur di atas hura-hura." tutur Ustadz Cahaya Ravaiel.
Mari kita jaga tradisi mulia ini. Jangan sampai ia kehilangan ruhnya dan hanya menjadi seremoni belaka. Jadikan momentum ini untuk saling memaafkan dengan tulus, mempererat tali kekerabatan yang mungkin sempat renggang, dan memastikan bahwa kasih sayang Allah senantiasa menaungi Bumi Lancang Kuning.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.****

Posting Komentar