Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi hari dengan tradisi Ziarah Kubur bersama. Seluruh lapisan masyarakat, mulai dari ninik mamak, tokoh agama, hingga pemuda, berjalan kaki mengunjungi pemakaman kaum untuk mendoakan para leluhur yang telah tiada.
Setelah prosesi ziarah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Makan Bajambau (makan bersama secara adat). Ratusan talam berisi berbagai hidangan khas Kampar disajikan di Masjid di Desa tersebut, menciptakan pemandangan kebersamaan yang luar biasa.
Ketua Pemuda Desa Pulau Jambu, Yusup Catuok, kepada media ini menyebutkan bahwa kegiatan tahun ini terasa sangat spesial karena antusiasme masyarakat yang terus meningkat, terutama dari kalangan generasi muda.
”Hari Rayo Onam bukan sekadar seremonial, tapi merupakan momentum mempererat tali silaturahmi antar sesama warga, baik yang menetap di desa maupun yang pulang dari perantauan," ujar Yusup Catuok.
Yusup menambahkan bahwa pemuda Desa Pulau Jambu berkomitmen penuh untuk menjaga warisan budaya ini agar tidak lekang oleh waktu. Menurutnya, keterlibatan pemuda dalam kepanitiaan dan pelaksanaan teknis di lapangan adalah bukti bahwa nilai-nilai adat masih tertanam kuat.
"Kami ingin memastikan bahwa tradisi Ziarah Kubur dan Makan Bajambau ini tetap menjadi identitas Desa Pulau Jambu. Ini adalah cara kita menghormati pendahulu sekaligus memperkuat kekompakan warga," tambahnya.
Tradisi Hari Rayo Onam di wilayah Kampar memang dikenal lebih meriah dibandingkan hari raya Idul Fitri, karena menjadi ajang "pulang kampung" kedua bagi para perantau untuk berkumpul dengan keluarga besar.***(Rl).



Posting Komentar